1 Juli: Sesuatu yang Berubah
Juni berakhir dengan kamar Nana yang dindingnya baru dicat cotton fantasy, pekerjaan baru yang dimulai pada tanggal 29 dan tiga malam di Cikarang yang belum juga selesai kupikirkan.
Di kamar itu belum ada banyak barang. Di antara kami juga belum ada banyak kata yang pasti. Anehnya, justru dua hal yang belum selesai itu terasa penuh kemungkinan.
Aku bisa menunjuk tiga malam tersebut kalau seseorang meminta tanggal ketika hubungan kami berubah. Tapi perasaan tidak bekerja seperti formulir yang harus diisi hari, bulan dan tahunnya. Ada hal-hal yang sudah bergerak jauh sebelum orang berani memberinya nama.
Sejak April aku terbiasa mencari Nana untuk memastikan ia baik-baik saja. Apakah ia sudah tidur. Apakah ada sesuatu untuk dimakan. Apakah hari itu masih terlalu berat. Pada Juli, pertanyaan-pertanyaan itu belum hilang, tetapi sebuah keinginan lain tumbuh di sampingnya.
Aku ingin menemuinya bahkan ketika ia baik-baik saja.
Tidak harus ada masalah. Tidak harus ada kamar yang perlu dicat atau perjalanan yang perlu direncanakan. Aku ingin duduk di sebelahnya dan mendengar cerita tentang pekerjaannya, tentang sesuatu yang ia lihat di jalan atau tentang hal kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam dua kalimat tetapi di tangannya berubah menjadi lima belas menit.
Nana punya cara sendiri dalam bercerita. Kalau ia sedang senang, setiap detail terasa perlu diselamatkan. Ia akan berhenti untuk menambahkan satu bagian yang tadi hampir terlupa, lalu satu lagi, sementara aku pura-pura mengeluh bahwa ceritanya tidak pernah sampai ke akhir.
Padahal aku berharap memang belum sampai.
Aku pernah melihatnya pada April ketika kalimat-kalimat sederhana saja memerlukan tenaga. Kini ia bisa bersemangat tentang sesuatu yang tidak berhubungan dengan lukanya. Aku menyukai perubahan itu. Tetapi aku juga harus mengingatkan diri sendiri bahwa Nana tidak hidup untuk menjadi bukti bahwa ia sudah pulih.
Kalau hari ini ia tertawa, besok ia tetap boleh sedih.
Kalau ia sedang diam, aku tidak harus membuka semua pintu dalam kepalanya.
Aku pernah berada dekat ketika ia membutuhkan tempat untuk tidur. Pada Juli aku mulai belajar berada dekat tanpa menjadikan diriku penjaga setiap perasaannya. Kadang perhatian terbaik adalah bertanya. Kadang mendengarkan. Kadang menerima jawaban, "Aku belum mau cerita," dan tetap duduk di situ tanpa membuatnya merasa bersalah.
Aku tidak selalu pandai melakukannya.
Sesekali aku mengira tahu arti diamnya, lalu Nana menunjukkan bahwa tebakanku salah. Ia bisa kesal, bisa jahil, bisa manja, bisa ingin sendiri. Setiap kali satu dugaanku dibetulkan, aku mengenalnya sedikit lebih utuh. Ada rasa lega dalam mengetahui seseorang tidak harus terus lembut agar kamu tetap ingin berada di dekatnya.
Aku juga mulai merasa ia melihat bagian-bagian diriku yang jarang tampak. Saat aku berkata pekerjaan baik-baik saja dengan suara terlalu cepat, Nana tidak selalu percaya. Ia tahu aku bisa diam karena sedang berpikir dan bisa diam karena terlalu banyak pikiran berjalan bersamaan seperti tab di laptop yang semuanya terbuka tanpa alasan jelas.
Ada satu hal yang belum kuberitahu dengan jelas: betapa sering aku mulai memikirkan masa depan dalam bentuk yang sangat sederhana. Bukan rumah besar atau rencana yang harus diumumkan kepada siapa pun. Aku memikirkan kemungkinan pulang setelah hari kerja lalu menemukan Nana sedang punya cerita. Aku memikirkan belanja makanan tanpa alasan khusus atau berebut siapa yang harus memilih film ketika keduanya sama-sama tidak yakin ingin menonton apa.
Bayangan seperti itu membuatku lebih gugup daripada adegan romantis mana pun.
Adegan romantis punya akhir yang bisa disimpan di foto. Kehidupan biasa harus dipilih lagi keesokan harinya dan lusa dan pada hari ketika dua orang sama-sama tidak menyenangkan. Aku belum tahu apakah kami siap untuk semua itu. Aku hanya tahu, kalau membayangkan kehidupan biasa dengan seseorang, orang itu sekarang selalu Nana.
Aku tidak ingin ia menjadi janji yang kutaruh terlalu cepat di hadapannya. Kami baru melewati bulan-bulan yang panjang dengan caranya sendiri. Ada bagian dirinya yang masih membutuhkan waktu dan aku punya pekerjaan baru yang bahkan belum kumulai. Jadi aku menyimpan bayangan itu sebagai keinginan, bukan permintaan.
Setiap kali rasa ingin mengatakan semuanya muncul, aku memilih hal yang bisa dilakukan hari itu. Bertanya apakah ia sudah makan. Mendengar ceritanya sampai selesai. Menemuinya ketika kami sama-sama bisa. Aku tidak tahu apakah hal-hal kecil itu cukup untuk membangun sesuatu yang panjang. Tapi aku tahu sesuatu yang panjang tidak mungkin berdiri tanpa mereka.
Kami tidak pernah duduk dengan buku catatan lalu memutuskan akan mempelajari sifat masing-masing.
Kami belajar sambil makan, menunggu, berjalan dan sesekali salah paham.
Pertemuan kami menjadi lebih sering. Satu pesan "lagi di mana?" dapat berubah menjadi "udah makan?" lalu, tanpa banyak upacara, "ketemu, yuk." Jakarta, Bogor, Cikarang, Lebak Bulus: tempat-tempat itu tidak lagi terasa seperti titik di peta. Mereka menjadi cara mengukur berapa lama sampai aku melihat Nana.
Kadang Google Maps menampilkan garis merah yang panjang sekali. Aku tetap berangkat.
Ada malam ketika pulang menjadi negosiasi kecil.
"Pulang?"
"Nanti."
"Kapan?"
"Nanti."
Jawaban yang buruk untuk semua keperluan logistik, tetapi cukup bagus untuk membeli sedikit waktu lagi. Kami tetap harus berpisah pada akhirnya. Hanya saja belum sekarang. Belum saat percakapan sedang enak. Belum saat tangannya masih berada di dekat tanganku.
Nana mulai masuk ke rutinitasku tanpa meminta izin resmi. Kalau aku melihat sesuatu yang lucu, aku ingin mengirimkannya. Kalau menemukan makanan baru, aku memikirkan apakah ia akan suka. Kalau hariku buruk, aku tidak selalu ingin nasihat. Kadang aku hanya ingin tahu ia ada.
Aku mulai menyadari bahwa kehadiran seseorang bisa berubah menjadi kebiasaan sebelum sempat disebut hubungan.
Dan tepat ketika kebiasaan itu terasa paling nyaman, aku ingat bahwa pertengahan bulan ini aku akan pindah ke Bali.
10 Juli: Surat Sebelum Menjemput
Pada tanggal 10 Juli, aku menulis kepada Nana sebelum menjemputnya.
Aku mulai beberapa kali, menghapusnya, lalu mulai lagi. Semua kalimat terdengar terlalu kecil untuk hari yang ingin kujadikan istimewa. Pada akhirnya aku berhenti mengejar surat yang sempurna. Aku hanya ingin ia tahu isi kepalaku sejak bangun tidur.
Nana.
Aku menulis bahwa aku akan menunggunya dengan motor di Palma Tower. Aku tahu kemungkinan besar aku datang terlalu awal. Kalau waktu bertemu seseorang sudah dekat, duduk diam di rumah malah terasa seperti cara paling lambat untuk menunggunya.
Dalam surat itu aku merencanakan persinggahan singkat di kosnya. Aku ingin memeluk dan menciumnya sebelum kami pergi ke mana-mana. Ini terdengar seperti hal yang bisa dilakukan setelah makan malam, tetapi aku tidak mau menunggu sejauh itu. Rindu yang sudah terkumpul beberapa hari punya logika sendiri. Ia ingin bertemu lebih dulu daripada semua agenda lain.
Lalu kami akan boncengan ke Omah Jangan Diam Terus. Aku sudah memesan Experience Dining Journey untuk kami. Bukan sekadar memilih meja dan menunggu makanan, melainkan rangkaian hidangan yang masing-masing membawa cerita dari tempat berbeda.
Aku menyukai gagasan itu. Bukan karena aku mengira sebuah makan malam bisa menjadi lambang besar hubungan kami. Aku hanya membayangkan Nana duduk di depanku, memilih hidangan yang paling ia suka, lalu bercerita panjang tentang alasannya. Ada orang yang bahkan ketika sedang membaca menu bisa membuatmu ingin mendengar sampai selesai.
Dalam surat aku membayangkan mungkin ada lilin kecil di meja. Mungkin juga tidak. Kami belum pernah ke sana. Aku menulis tentang kemungkinan itu sebagai kemungkinan, sama seperti banyak hal pada Juli yang belum terjadi tetapi sudah membuatku berdebar.
Bagian yang paling jelas justru perjalanan naik motor. Aku membayangkan tangannya di pinggangku, angin dan lagu yang kami ikuti dengan nada sesuka hati. Kalau kami fals, untung yang mendengarnya cuma kami. Kelak Nana juga akan mengingat nyanyian buruk itu dalam suratnya sendiri. Aku belum tahu hal tersebut pada tanggal 10. Saat itu aku hanya senang membayangkan ia duduk di belakangku.
Ada juga bagian surat yang lebih sulit kutulis.
Aku tahu tahun ini berat untuknya. Aku pernah melihat lelah yang tidak selesai hanya dengan tidur satu malam. Aku pernah melihat bagaimana seseorang masih bisa menjalani hari sambil membawa rasa bersalah yang terus meminta tempat. Aku ingin malam itu memberi Nana kesempatan menaruh semua itu sebentar, walaupun hanya di depan pintu restoran dalam bayanganku.
Aku tidak ingin membuat janji bahwa makan malam akan menyembuhkan apa pun.
Aku ingin ia makan dengan tenang. Tertawa kalau ada yang lucu. Merasa disayangi tanpa harus membuktikan bahwa ia sudah kuat.
Setelah makan, rencananya kami kembali ke apartemenku di Cikarang. Nana akan menginap sampai Minggu. Satu akhir pekan penuh bersama seharusnya terdengar panjang. Ketika tanggal pindahku ke Bali semakin dekat, dua malam malah mulai terasa seperti jumlah yang terlalu kecil untuk dipakai sembarangan.
Aku menulis bahwa aku ingin bangun dan melihatnya pertama kali, tanpa perlu terburu-buru pergi. Lalu, setelah semua kalimat besar itu, aku memintanya memakai baju yang nyaman agar enak boncengan.
Aku tertawa sendiri ketika membaca ulang surat itu.
Mungkin itulah caraku menyayangi Nana: menulis tentang bahagia yang pantas ia dapatkan, lalu tetap khawatir ia pegal di atas motor.
Surat tanggal 10 adalah rencana yang kutulis sebelum hari itu berjalan. Aku tidak perlu mengubah semua yang kubayangkan menjadi laporan tentang apa yang pasti terjadi. Yang jelas, pada hari itu aku sangat ingin menemuinya. Dan keinginan yang begitu sederhana mulai terdengar mendesak karena aku tahu sebentar lagi menjemputnya membutuhkan lebih dari sekadar kunci motor.
11–14 Juli: Sisa Waktu di Jakarta dan Cikarang
Setelah menulis surat itu, aku semakin sadar bahwa sebuah akhir pekan dapat memiliki dua rasa sekaligus.
Aku ingin menikmatinya tanpa melihat jam. Di saat yang sama, setiap jam yang lewat membuat pertengahan Juli semakin dekat.
Dulu aku tidak perlu berpikir terlalu jauh ketika ingin bertemu Nana. Kami mencari waktu, menyesuaikan perjalanan, lalu salah satu berangkat. Macet tetap menyebalkan, tetapi macet punya ujung. Sesudahnya ada Nana, bisa kulihat langsung, bisa kusentuh tanpa menunggu sambungan telepon.
Sebentar lagi pertanyaan "mau ketemu?" tidak akan cukup dijawab dengan membuka peta. Kami harus melihat jadwal kerja, harga tiket, waktu perjalanan ke bandara dan berapa hari yang bisa disisihkan. Akan ada laut di antara niat bertemu dan pertemuannya sendiri.
Aku mencoba tidak menghitung berapa kali lagi kami bisa bersama sebelum berangkat.
Tentu saja aku tetap menghitung.
Masih berapa pagi. Berapa kesempatan untuk makan bersama. Berapa kali aku bisa menoleh dan melihat ekspresinya tanpa layar mengubah warnanya.
Aku tidak mengatakan hitungan itu setiap kali kami bertemu. Tidak adil membuat Nana merasa semua pertemuan adalah latihan perpisahan. Ia baru memulai pekerjaan baru di TB Simatupang. Ia masih membangun kamarnya, mengisi bagian-bagian hidupnya yang beberapa bulan lalu sempat terasa tercerai. Aku ingin hadir untuk kehidupan yang sedang ia bangun, bukan terus-menerus menariknya ke kecemasanku tentang Bali.
Tapi pikiran manusia tidak selalu patuh pada niat baik.
Ada saat ketika Nana tertawa dan aku tiba-tiba membayangkan suara tawa yang sama keluar dari speaker ponsel. Ada saat ketika ia sibuk dengan urusannya sendiri di dekatku dan aku menyadari aku akan merindukan keadaan itu lebih daripada banyak kegiatan yang kami rencanakan.
Bersama tanpa harus terus berbicara ternyata sebuah kemewahan.
Aku hampir mengatakan hal tersebut. Lalu kuurungkan karena ia sedang berkonsentrasi. Aku tidak ingin mengubah sore biasa menjadi pidato. Beberapa menit kemudian ia menoleh dan tersenyum singkat. Aku membalasnya sambil berharap ingatanku menyimpan hal kecil itu lebih lama daripada biasanya.
Hubungan kami tidak hanya berisi momen yang manis. Kami juga bisa lelah. Salah satu pesan kadang terbaca lebih dingin daripada maksudnya. Ada hari ketika salah satu ingin bicara dan yang lain terlalu penuh untuk mendengar dengan baik. Kami harus belajar mengatakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum kesal yang kecil tumbuh menjadi jarak yang tidak perlu.
Saat masih bisa bertemu di Jakarta atau Cikarang, salah paham sering selesai begitu kami duduk berhadapan. Aku bisa melihat Nana mengantuk, bukan marah. Ia bisa melihat aku sedang memikirkan pekerjaan, bukan sengaja mengabaikannya. Setelah pindah, semua petunjuk kecil itu mungkin hilang. Satu jawaban pendek di layar bisa tinggal terlalu lama di kepala.
Aku takut menjadi orang yang menulis "nggak apa-apa" lalu berharap Nana tahu ada sesuatu.
Aku juga takut menafsirkan diamnya sendiri, membangun cerita yang mungkin tidak benar dan merasa terluka oleh cerita buatan kepalaku.
Mungkin karena itu menjelang pergi aku semakin memperhatikan cara kami bicara. Aku ingin membawa sesuatu yang lebih berguna daripada janji bahwa semuanya akan selalu mudah. Aku ingin kami tetap mau bertanya dengan baik. Tetap mau menjelaskan. Tetap ingat bahwa orang di seberang layar adalah orang yang sama yang pernah duduk di sebelah kami, hanya sedang tidak bisa disentuh.
Bali sudah menjadi keputusan sebelum hubungan kami berubah bentuk. Aku mengambil pekerjaan itu karena ingin mencoba kehidupan lain, mengenal tempat baru dan melakukan sesuatu yang berarti bagi diriku sendiri. Aku tidak menyesal.
Tetapi sekarang keputusan yang baik itu mempunyai bagian yang menyakitkan.
Aku tidak ingin Nana meninggalkan pekerjaannya atau kamar yang baru ia pilih warnanya hanya untuk mengikuti perpindahanku. Ia sudah terlalu banyak bekerja untuk memiliki kembali ruang yang terasa miliknya. Menyayanginya tidak memberiku hak untuk meminta semua itu berhenti.
Aku tetap ingin dekat.
Dua kalimat itu bisa benar pada saat yang sama. Yang sulit adalah hidup di antara keduanya.
Di kamar, barang-barangku mulai diputuskan nasibnya. Pakaian, sepatu, buku, kabel yang tidak lagi kukenal kegunaannya. Pindahan memaksa benda-benda yang selama ini aman di sudut lemari menghadapi pertanyaan sederhana: ikut atau tinggal.
Pada dini hari tanggal 14, setelah barang-barangku dibawa pulang ke rumah keluarga, aku mengirim pesan panjang kepada Nana. Mobil baru saja datang dan mereka langsung membantu mengangkat barang satu per satu. Tidak ada yang memintaku menjelaskan seluruh kesulitan beberapa tahun terakhir. Mereka menemani, menyemangati, lalu bertanya aku mau dimasakkan apa.
Pertanyaan tentang makanan itu nyaris membuatku menangis.
Selama ini aku mengira mereka kurang peduli. Malam itu aku melihat kepedulian yang tidak banyak bicara, tetapi tangannya bergerak lebih dulu ketika aku datang membawa barang. Aku merasa sedih karena baru belakangan berani bercerita tentang apa yang kualami. Aku juga merasa lega. Dua perasaan itu tidak saling mengusir; keduanya ikut masuk ke rumah bersama kardus-kardusku.
Nana membaca pesanku sejak subuh. Ia mengaku malam sebelumnya sempat kesal karena menungguku tiba di rumah dan menelepon, sementara aku sulit fokus. Lalu ia mendengar napasku yang berat dan tahu ada sesuatu yang sedang kutahan. Balasannya membuatku berhenti cukup lama: ia ikut senang aku menemukan kehangatan rumah dan ia mengingatkan bahwa orang bisa sayang tanpa selalu pandai mengatakannya. Aku ingin bisa membawa pengertian itu ke Bali, bukan hanya barang-barang di koper.
Ada kaus yang kupegang terlalu lama. Bukan karena kausnya penting. Aku sedang menunda kenyataan bahwa setiap barang yang masuk koper membuat keberangkatanku sedikit lebih nyata.
Nana tidak bisa dimasukkan ke sana.
Aku sempat tertawa membayangkan protesnya kalau kukatakan itu. Ia pasti punya pendapat tentang dilipat di antara celana dan laptop. Tetapi setelah lelucon itu lewat, persoalannya masih sama. Aku akan membawa beberapa bagian hidupku ke Bali. Nana akan tetap punya hidupnya di Jakarta.
Kami sudah bicara tentang kemungkinan bertemu lagi pada Agustus. Lima hari di Bali terdengar masuk akal. Nana belum pernah ke sana dan aku suka membayangkan ia mengenal pulau itu bersamaku. Tetapi membicarakan sebuah bulan berbeda dengan melihat tanggal dan nomor penerbangan di tangan.
Untuk sementara, rencana itu masih berupa kalimat.
Aku pernah mengira semua yang perlu kutakuti adalah keberangkatan. Menjelang tanggalnya, aku sadar yang lebih membuatku gelisah adalah apa yang datang setelahnya: malam-malam biasa ketika tidak ada lagi kemungkinan bertemu besok hanya karena kami sama-sama mau.
Aku mencoba menyimpan detail Nana tanpa terlihat sedang menghafal. Cara ia meraih tanganku ketika berjalan. Jeda sebelum ia menyampaikan sesuatu yang belum pasti. Wajahnya setelah bangun tidur, ketika ia belum sepenuhnya berunding dengan dunia.
Hal-hal itu tidak pernah tampak penting pada hari ketika terjadi.
Justru itulah yang membuatku takut lupa.
Ada malam ketika aku ingin mengatakan semua kekhawatiranku sekaligus. Bahwa aku akan rindu. Bahwa aku belum tahu bagaimana menjadi orang yang hadir dari pulau lain. Bahwa aku takut pekerjaan baru membuatku terlalu sibuk, lalu Nana membaca kesibukan itu sebagai perubahan hati.
Aku tidak berhasil mengatakannya dalam satu kalimat yang rapi. Beberapa bagian keluar, beberapa tertinggal. Nana mendengarkan. Tidak ada nasihat ajaib. Kami bicara sampai hal yang semula hanya terasa seperti beban mulai punya bentuk.
Di balasan tanggal 14 itu, Nana juga mengingat sebuah pesan lamaku yang sangat pendek: "lu dmn?" Bagiku saat mengirimnya, itu hanya cara mencari tahu ia berada di mana. Baginya, pada masa ketika ia merasa kehilangan arah, pesan itu berarti ada orang yang akan datang tanpa menghakimi. Aku tidak tahu sebuah kalimat sekecil itu bisa tinggal selama itu dalam ingatan seseorang.
Aku belajar bahwa aku bisa pergi tanpa berpura-pura tidak sedih.
Dan Nana bisa mendukung kepindahanku tanpa harus berpura-pura tidak akan merindukanku.
Satu hal belum kutahu saat itu: ia sedang menyiapkan kata-katanya sendiri untuk kubawa ke pesawat.
14 Juli: Gerbera
Pada hari terakhir sebelum hidup kami terbagi menjadi dua pulau, aku ingin memberi Nana bunga.
Aku belum pernah memberi bunga kepada siapa pun. Itu membuat urusan yang bagi orang lain mungkin sederhana menjadi sedikit memalukan bagiku. Aku tidak tahu berapa banyak yang terlalu banyak, warna apa yang paling tepat atau bagaimana menyerahkannya tanpa terlihat sedang meniru adegan yang tak pernah kulatih.
Satu hal yang kutahu: aku mencari gerbera.
Aku bertanya ke toko-toko bunga di sekitar Marbella. Beberapa tidak punya. Aku terus mencari sampai menemukan toko dekat kos Nana yang bisa menyiapkannya. Dua warna. Waktu melihatnya, aku masih memikirkan apakah seharusnya aku melakukan ini dengan cara yang lebih rapi.
Ada orang yang pandai membuat kejutan terlihat alami. Aku mungkin bukan salah satunya. Bahkan saat membawa bunga, sebagian kepalaku masih menghitung perjalanan, waktu dan apakah batang-batang itu akan baik-baik saja sampai bertemu Nana.
Namun ketika memikirkan alasan aku mencarinya dari satu toko ke toko lain, aku berhenti mengkhawatirkan penampilan adegannya. Aku ingin ia membawa sesuatu yang bisa dilihat setelah aku pergi. Bunga tidak akan bertahan selamanya. Aku tahu itu. Tetapi selama beberapa hari, mungkin ia bisa melihat gerbera itu di tempatnya dan mengingat ada seseorang yang sengaja mencarinya.
Aku memberinya bunga itu. Aku tidak akan mengarang satu reaksi besar dari Nana hanya agar adegannya terdengar seperti film. Dalam ingatanku, yang paling lama tinggal justru gugupku sendiri: pertama kali melakukan sesuatu yang kecil, lalu menyadari aku melakukannya karena orang ini sudah menjadi begitu penting.
Esok harinya, dari Bali, aku masih akan meminta maaf karena merasa cara memberikannya kurang romantis.
Sekarang kupikir mungkin aku sedang salah mengukur romantis.
Kadang ia tidak terlihat seperti gerakan yang sempurna. Kadang ia terlihat seperti seseorang yang bertanya, "Gerbera ada?" berkali-kali sampai akhirnya mendapatkan jawaban iya.
15 Juli: Surat Nana
Sebelum keberangkatanku, Nana menulis sebuah surat. Ia ingin aku punya sesuatu untuk dibaca ketika pesawat sudah berada di atas awan.
Ia membukanya dengan sapaan riuh dan lelucon kecil. Aku bisa membayangkan ekspresinya ketika mengetik. Lalu ia berterima kasih untuk hampir enam bulan terakhir dan tiba-tiba nada surat itu membuatku membaca lebih pelan.
Ia menyebut masa ketika kami masih "teman kantor".
Aku hampir lupa betapa jauhnya jarak dari dua kata itu ke keadaan kami sekarang. Di antara keduanya ada hari-hari kerja, percakapan, April yang berat, kamar tempat ia akhirnya tidur, Jogja, Bogor, Gunung Gede, dinding cotton fantasy dan tiga malam di Cikarang. Ada banyak kejadian yang tidak mungkin masuk ke satu sebutan singkat.
Nana menulis bahwa ia lebih sering tertawa. Ia merasa lebih tenang. Ia lebih semangat bangun pagi ketika tahu akan melihat wajahku di layar iPad. Hidupnya, katanya, perlahan kembali hangat.
Aku berhenti di sana.
Selama ini aku banyak bercerita tentang apa yang kulihat dari dirinya. Tentang wajah yang mulai hidup lagi, tentang langkah yang tidak lagi seberat April, tentang caranya memilih warna dinding. Surat itu membuatku mendengar Nana menjelaskan perubahan tersebut dengan suaranya sendiri.
Aku senang, tetapi ada rasa lain yang datang bersamanya. Ketika seseorang mengatakan dirinya merasa nyaman di dekatmu, ada keinginan besar untuk menjaga rasa itu baik-baik. Aku akan pergi beberapa jam lagi. Untuk pertama kalinya, keinginanku menjaga dan kenyataan bahwa aku harus menjauh berdiri sangat dekat dalam satu hari.
Ia mengingat hal-hal yang kukira hanya berputar di kepalaku: menunggu dijemput di Palma, pelukan sebelum berangkat, boncengan, nyanyian fals di motor. Aku membaca bagian itu sambil tersenyum. Rupanya hal-hal kecil tidak kecil bagi kami berdua.
Lalu Nana mengatakan ia sedih.
Mulai minggu itu kami tidak bisa lagi otomatis bertemu setiap akhir pekan. Tidak ada lagi menunggu motor datang di Palma seolah itu hal yang bisa selalu diulang. Ia menulis bahwa kedekatan kami justru sedang terasa enak-enaknya. Ia masih ingin mengenalku lebih jauh dan sekarang kami harus mempelajari bentuk baru dari kebersamaan.
Nana tidak mengubah sedihnya menjadi alasan untuk menahanku.
Ia berharap Bali baik kepadaku. Semoga pekerjaan baruku lancar, aku sehat, betah, bertemu orang-orang baik dan hal-hal yang kuperjuangkan satu per satu datang. Ia bahkan menyelipkan target gaji lima puluh juta sebulan di antara doa-doanya, lalu menggoda bahwa setelah itu mungkin ada tugas sampingan untuk menjaganya seumur hidup.
Aku tertawa.
Kemudian aku membaca bagian itu sekali lagi dan tidak langsung tertawa.
Begitulah Nana menulis kepadaku. Ia bisa menaruh sesuatu yang sangat besar di antara dua candaan, lalu membiarkanku memikirkan apakah ia sadar betapa lama kalimatnya akan tinggal.
Ia berharap jarak tidak membuat kami asing. Ia berharap jika nanti datang ke Bali, rasanya tetap seperti pulang kepada seseorang, bukan sekadar tiba di sebuah kota. Ia sudah memikirkan kunjungan lima hari pada bulan depan, perjalanan pertamanya ke Bali. Di tengah semua harapan itu ia masih sempat mengingatkanku agar jangan lebih jatuh cinta kepada Bali daripada kepadanya.
Alasannya sederhana.
Bali tidak bisa memelukku.
Nana bisa.
Aku tersenyum, lalu mendadak ingin berada di tempat yang memungkinkan ia membuktikan kalimat itu sekali lagi.
Menjelang akhir surat, ia berterima kasih karena aku datang pada waktu yang tidak disangkanya. Ia menulis bahwa hubungan kami membuatnya percaya kedekatan bisa terasa tenang tanpa kehilangan rasa berbunga-bunga. Ia bilang masih ingin mengenalku. Belum selesai jatuh cinta, katanya, lalu buru-buru bercanda bahwa ia sebenarnya baru suka.
Aku tidak mengoreksi bagian mana pun.
Aku hanya menyimpan seluruhnya.
Di bagian paling akhir, Nana mengingatkanku bahwa akan ada seorang perempuan di Jakarta yang senang mendengar ceritaku, bangga melihatku berhasil dan menunggu aku pulang untuk dipeluk.
Aku tadinya mengira aku sendirian menghitung sisa waktu.
Surat itu memberitahuku ia juga menghitung, dengan caranya sendiri.
15 Juli: Pergi
Bandara punya kemampuan aneh membuat perpisahan terlihat seperti urusan administrasi.
Ada pemeriksaan, antrean, papan penerbangan, orang-orang yang menarik koper terlalu cepat dan suara pengumuman yang tetap tenang apa pun yang sedang terjadi di kepala penumpangnya. Dari luar, aku hanya seseorang yang pergi untuk pekerjaan baru. Tidak ada petugas yang perlu tahu aku baru saja membaca surat yang membuatku ingin tinggal sedikit lebih lama.
Aku bergerak mengikuti urutan. Masuk. Menunggu. Menemukan gerbang. Menjawab pesan. Menyimpan ponsel. Membukanya lagi.
Aku tidak tahu apakah ada cara yang benar untuk meninggalkan seseorang yang baru saja menjadi bagian dari hari-harimu. Kalau terlalu lama memeluk, perpisahan tetap datang. Kalau cepat-cepat berjalan, rasa beratnya ikut masuk bersama koper.
Waktu pesawat mulai bergerak, aku melihat ke luar jendela. Bangunan mengecil. Jalan berubah menjadi garis yang tidak bisa kubedakan satu dari yang lain. Aku tahu beberapa jalan itu pernah kulewati bersama Nana. Dari atas, semuanya tampak sama. Ingatanku tidak setuju.
Aku membawa suratnya. Beberapa kalimat kembali muncul tanpa perlu kubuka lagi. Tentang perempuan di Jakarta yang akan mendengar ceritaku. Tentang Bali yang tidak bisa memelukku. Tentang rasa takut menjadi asing.
Aku menuju tempat yang memang kupilih sendiri.
Hal itu tidak menghapus sedihku. Keputusan yang tepat untuk hidupku tetap bisa mengambil sesuatu yang kusukai dari cara hari-hariku berjalan. Aku ingin pekerjaan baru itu. Aku juga ingin besok pagi masih bisa menjemput Nana. Dua keinginan itu sama-sama nyata, meskipun hanya satu yang bisa kulakukan.
Ketika pesawat mendarat, aku menunggu koper dan keluar bersama penumpang lain. Udara baru menyambutku tanpa mengenalku. Semua orang punya arah masing-masing. Beberapa wajah dicari di pintu kedatangan, beberapa nama dipanggil, beberapa pelukan terjadi di hadapanku.
Tidak ada Nana di sana.
Tentu saja tidak. Aku tahu ia berada di Jakarta. Aku baru saja meninggalkannya. Tetapi mengetahui sesuatu secara logis ternyata tidak selalu menyiapkan tubuhmu untuk melihat ruang yang kosong.
Aku ingin mengabarinya bahwa aku sudah sampai. Yang lebih kuinginkan adalah ia bisa melihatnya sendiri, berdiri di sebelahku dan mengomentari pulau yang untuk pertama kalinya kami lihat bersama. Aku mengirim kabar lewat ponsel, lalu menatap layar lebih lama daripada yang diperlukan.
Beberapa hari lalu, kedatangan dan kepulanganku cukup diberitahukan sambil memandang wajahnya.
Sekarang aku menunggu tanda kecil di bawah sebuah pesan.
Perjalanan menuju tempat tinggalku berlangsung seperti awal dari banyak hal. Jalan yang belum kuhafal. Bangunan yang belum punya cerita. Pekerjaan yang menunggu. Aku berusaha memperhatikan semuanya. Di saat yang sama, separuh kepalaku masih berada di halaman terakhir surat Nana.
Aku telah sampai di Bali.
Perasaan sampai itu akan membutuhkan waktu lebih lama.
16 Juli: Balasan dari Bali
Keesokan harinya, aku membaca ulang surat Nana. Lalu sekali lagi.
Ia menulis dengan cara yang membuatku sulit mempertahankan wajah serius. Ada candaan, emoji yang hampir bisa kudengar suaranya dan kalimat-kalimat lembut yang muncul tiba-tiba. Aku ingin membalas semuanya sekaligus. Seperti biasa, yang keluar pertama justru godaan.
Aku menyebutnya agak tengil.
Mungkin karena ia sempat mengatakan baru suka, padahal seluruh suratnya terdengar seperti seseorang yang tahu perasaannya sudah pergi lebih jauh daripada itu. Mungkin aku juga tengil karena membalas perasaan besar dengan lelucon tentang pekerjaan lama kami.
Kami pernah bekerja di pabrik percetakan label.
Aku menulis bahwa label "teman kantor" sudah tidak cocok lagi. Kalau dulu kata itu cukup untuk menjelaskan bagaimana kami saling mengenal, sekarang ia malah terasa lucu. Sejak masa itu kami sudah melewati terlalu banyak hal yang tidak tercetak di kartu nama mana pun.
Aku membayangkan Nana membaca kalimat itu sambil memutar mata.
Lalu mungkin tersenyum.
Aku juga menulis bahwa dunia rupanya masih menyimpan banyak pengalaman pertama bagi kami. Usia kami bukan lagi usia orang yang mengira semua hal baru harus terjadi sebelum dua puluh lima. Namun justru sekarang aku menemukan bahwa "pertama" bisa berarti hal yang sederhana: pertama kali memberi bunga kepada seseorang, pertama kali memulai hidup di pulau ini, pertama kali membayangkan Nana datang ke sini.
Bunga itu gerbera yang kuberikan kemarin. Dalam balasan tanggal 16, aku meminta maaf karena merasa caraku menyerahkannya kurang romantis. Dari Bali, setelah bunga itu tidak lagi berada di tanganku, aku mulai melihatnya berbeda. Aku sudah mencari jenis yang kuinginkan sampai menemukannya untuk Nana. Mungkin perhatian tidak selalu membutuhkan gerakan yang anggun.
Aku ingin memberinya lebih banyak warna lain kali.
Kalimat itu kecil, tetapi di kepalaku ia berarti aku sudah membayangkan "lain kali" dengan Nana di dalamnya.
Dalam surat yang sama aku bercanda soal Mazda merah hatchback dan alasan untuk mencari uang lebih banyak. Aku menyebut lagu, menyelipkan candaan yang mungkin hanya masuk akal bagi kami, lalu kembali ke satu hal yang ingin ia tahu dengan jelas: aku suka dirinya dalam keadaan yang tidak perlu disiapkan khusus untuk dilihat.
Ada bagian diriku yang khawatir kata-kataku akan terdengar seperti aku sedang mengubah Nana menjadi tokoh yang selalu harus kuat dan indah. Aku sudah terlalu sering melihat orang memuji seseorang karena berhasil melewati masa sulit, lalu tanpa sadar membuatnya takut untuk terlihat lelah lagi. Itu bukan yang kuinginkan.
Aku menyukai Nana ketika ia berdandan. Aku juga menyukainya ketika wajahnya polos dan ia tidak sedang berusaha mengesankan siapa pun. Aku menyukainya ketika ia banyak bicara dan ketika pikirannya terlalu penuh untuk menyusun satu cerita. Mengatakannya dalam surat terasa canggung, tetapi aku ingin ia tahu rasa sayangku tidak bergantung pada satu versi dirinya yang paling mudah dipuji.
Aku sempat mengutip lagu untuk menjelaskan betapa aneh dan masuk akalnya pertemuan kami. Tahun 2026 sudah cukup keras kepada kami berdua. Barangkali itulah sebabnya beberapa lelucon dalam surat kami terdengar terlalu ramai: kami masih mencari cara tertawa di tengah hal-hal yang tidak selalu ringan.
Kalau Nana nanti membaca balasanku dan hanya mengingat satu hal, aku berharap bukan julukan Bali Boy. Aku berharap ia mengingat bahwa aku tidak sedang meminta ia menjadi orang baru untuk bisa kusayangi dari tempat baru ini.
Aku tidak bisa menuliskan seluruh rasa sayang tanpa menyelipkan lelucon di antaranya. Kalau surat Nana bergerak dari tawa ke kalimat yang membuat dada berat, balasanku juga begitu. Kami seperti dua orang yang takut terdengar terlalu serius, padahal setiap halaman justru menunjukkan keseriusan yang sedang kami sembunyikan setengah hati.
Sesudah surat itu, percakapan kami pada tanggal 16 menjadi lebih terus terang. Nana takut kedekatan fisik membuat perasaannya sendiri tidak terlihat. Aku mengatakan bahwa aku menyukai orang yang mengirim cerita acak pada jam-jam aneh, yang masih memikirkan orang lain saat lelah, yang sedang belajar bersikap baik kepada dirinya sendiri. Ia meminta satu hal yang jauh lebih sulit daripada kalimat manis: kalau ada sikapnya yang membuatku tidak nyaman, katakan. Jangan diam. Jangan membiarkan salah paham tidur lebih dulu daripada kami.
Nana bilang komunikasi, kepercayaan dan cara menjalani hubungan dewasa masih sama-sama perlu kami pelajari. Aku menyetujuinya tanpa berpura-pura sudah ahli. Dari Bali, aku bisa menulis surat sepanjang apa pun. Besok pagi, aku tetap harus membuktikan bahwa aku sanggup bicara jujur ketika sebuah pesan membuatku tersinggung atau takut.
Aku baru sehari berada di Bali. Namun aku sudah mengajak Nana membayangkan tempat-tempat yang belum pernah kulihat. Aku ingin mencari pengalaman pertama bersamanya. Ia belum pernah datang ke sini. Aku sendiri masih terlalu baru untuk berpura-pura menjadi pemandu yang tahu setiap jalan.
Barangkali itu bagian yang paling menyenangkan.
Kami bisa tersesat sedikit bersama.
Di akhir surat aku menulis sebuah jawaban untuk kekhawatirannya.
Bali tidak akan merebutku darinya.
Aku menandatangani surat itu sebagai Bali Boy. Gelar yang terlalu cepat untuk orang yang baru mulai mengenal jalan pulang, tetapi cukup baik untuk membuat Nana tertawa.
Aku berharap ia tertawa. Aku juga berharap ia membaca kalimat sebelumnya dengan sungguh-sungguh.
17 Juli: Hari Pertama Kerja, Bunga yang Masih Hidup
Pagi setelah surat-surat itu, Nana mengirim pesan tentang gerbera. Itu gerbera pertama yang pernah ia terima. Aku yang kemarin masih khawatir cara memberikannya kurang romantis mendadak merasa pencarianku dari toko ke toko tidak sia-sia.
Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak selesai hanya dengan mengirim bunga. Ia masih takut memulai lagi. Ia belum sepenuhnya yakin kami sudah selesai dengan luka masing-masing. Namun ia merasa hangat bersamaku, ingin diusahakan dan ingin ikut mengusahakan kami.
Aku membaca pesannya beberapa kali sebelum membalas. Ada bagian diriku yang ingin segera menjanjikan semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak punya hak memberi jaminan sebesar itu. Yang bisa kukatakan adalah aku mengerti ketakutannya dan aku mau berproses bersamanya. Bunga bisa menjadi tanda bahwa aku memikirkannya. Jawaban atas rasa takutnya harus tampak dalam hari-hari berikutnya.
Hari itu juga hari pertamaku bekerja di Bali. Nana mengirim ucapan semangat dengan caranya sendiri: hangat, sedikit usil, menyuruhku tampil baik di kantor, lalu mengingatkan agar aku pulang membawa cerita untuknya. Ia menunggu wajahku muncul lagi setelah jam kerja. Di tengah gugup memasuki tempat baru, aku tertawa membaca pesannya.
Aku memberi kabar ketika sampai di kantor. Sesederhana itu. Di kota yang jalan-jalannya belum kuhafal, ada satu orang di Jakarta yang tahu aku sudah tiba dengan selamat.
Hari pertama ternyata panjang. Malamnya kami masih saling mencari kabar tentang kapan selesai dan kapan pulang. Aku mulai paham bahwa mendukung orang pindah dan bekerja di tempat baru juga berarti menunggu di ujung hari yang belum punya jadwal pasti. Nana melakukannya sambil menjalani harinya sendiri. Aku ingin mengingat bagian itu setiap kali aku mengira rindu hanya berat di pihakku.
Hari-Hari Pertama di Bali
Pekerjaan baru tidak memberiku banyak waktu untuk merasa seperti turis.
Ada nama orang yang harus kuingat, cara kerja yang berbeda, rute yang perlu dipelajari dan urusan sehari-hari yang tetap datang walaupun pulau ini terkenal karena pantainya. Cucian tidak menjadi lebih romantis di Bali. Senin pagi juga tidak meminta izin kepada pemandangan.
Aku menyukai semua itu lebih dari yang kuduga. Aku datang untuk bekerja dan tinggal, bukan hanya mengambil foto lalu pulang. Ada rasa puas ketika akhirnya bisa menemukan sebuah tempat makan tanpa membuka peta. Ada sedikit kemenangan ketika aku memilih jalan yang benar di persimpangan yang kemarin membuatku ragu.
Tempat baru perlahan menjadi tempatku.
Tetapi setiap kali aku menemukan sesuatu yang menarik, sebuah kalimat pendek muncul di kepala.
Nana pasti suka.
Aku melihat makanan: Nana pasti suka. Aku melewati jalan dengan pemandangan bagus: Nana harus lihat ini. Ada tempat yang tampak nyaman untuk duduk lama: kalau Nana di sini, mungkin kami akan berhenti.
Aku memotret hal-hal yang mungkin tidak istimewa bagi orang lain. Sebagian gambarnya tidak terlalu bagus. Ada jalan, langit, sudut tempat kerja, makanan sebelum dingin. Aku tetap mengirimkannya karena bukan fotonya yang penting. Aku ingin Nana bisa melihat sedikit bagian hari yang tidak kami jalani bersama.
Kadang ia membalas dengan cerita dari tempatnya. Aku membaca sambil membayangkan ruangan, jalan atau ekspresi yang tidak muncul di layar. Aku sadar ada bagian hidup kami masing-masing yang kini harus diterjemahkan menjadi kata-kata sebelum bisa dibagi.
Dulu cukup dengan menunjuk.
"Lihat itu."
Sekarang kami harus memotret, menunggu pesan terkirim dan berharap yang lain sedang punya waktu untuk melihat.
Kami tetap terhubung. Pesan datang sepanjang hari, lalu malamnya kami melakukan video call. Setelah cerita habis, panggilan tidak langsung ditutup. Kami melakukan urusan masing-masing, sesekali menoleh ke layar, lalu membiarkannya tetap menyala ketika mulai mengantuk.
Kami tidur ditemani panggilan itu sampai pagi.
Rasanya dekat, meskipun aku tetap tidak bisa meraih tangannya. Ada suara dan wajah Nana di kamarku, sementara tubuhnya berada di Jakarta. Aku mulai mengenal bentuk rindu yang aneh: bisa melihat seseorang tertidur dan tetap ingin berada di sebelahnya.
Tidak semua rindu bisa langsung kukirim sebagai pesan.
Pernah aku membuka chat, mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya. Bukan karena tidak jadi kangen. Aku hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan orang lain dengan kata "kangen" yang kukirim berkali-kali sehari. Akhirnya aku bertanya apakah ia sudah makan. Aku mengirim foto langit. Aku bertanya bagaimana pekerjaannya.
Aku tahu semua itu juga berarti kangen.
Mungkin ia pun tahu.
Ada bagian hidup baru yang menyenangkan dan sesekali aku merasa bersalah menikmatinya tanpa Nana. Perasaan itu tidak adil untuk kami berdua. Ia ingin aku berhasil di sini. Aku ingin ia punya hari-hari baik di Jakarta tanpa harus menunggu teleponku. Tetapi ketika sebuah tempat membuatku terkesan, ada ruang kecil di samping pengalamanku yang ingin kuisi dengan reaksinya.
Aku mulai menyimpan cerita untuk malam. Ada hal lucu di pekerjaan. Ada jalan yang salah kuambil. Ada makanan yang ingin kucoba lagi bersamanya. Ketika kami menelepon, sebagian cerita keluar. Sebagian lagi terlupa. Hari yang dialami bersama tidak perlu diringkas; hari yang dipisahkan jarak selalu sedikit kehilangan sesuatu ketika diceritakan belakangan.
Aku tidak ingin kehilangan kebiasaan saling tahu hal-hal kecil.
Jadi aku terus mengirim potongan hari, sekalipun fotonya buram dan ceritanya pendek.
Pada April, jarak antara aku dan Nana kadang hanya beberapa langkah: dari meja tempat makanan kusiapkan ke kasur tempat ia tertidur. Sekarang aku bisa melihatnya tidur melalui layar sampai pagi, tetapi tidak bisa mendekat untuk merapikan selimutnya.
Aku sedang belajar bentuk lain dari hadir.
Belajarnya tidak selalu anggun.
Dari Pagi Sampai Pagi Lagi
Pelan-pelan kami punya urutan yang tidak pernah ditulis sebagai aturan.
Pagi dimulai dengan kabar sebelum berangkat kerja. Kadang kami masih melihat wajah satu sama lain dari panggilan video yang menyala sejak malam. Setelah benar-benar harus bergerak, ada pesan pendek: aku berangkat dulu. Ketika sampai di kantor, aku memberi kabar lagi. Nana melakukan hal yang sama dari Jakarta.
Empat kata seperti "udah sampai kantor" mungkin tampak terlalu biasa untuk disimpan dalam cerita. Tetapi pada masa itu, kata-kata tersebut membuat kami tahu hari yang lain sedang dimulai dengan baik. Kami tidak perlu menunggu sampai malam untuk mengetahui seseorang yang kami sayangi sudah melewati perjalanan pagi.
Siang datang dengan foto makanan.
Aku mendapat makan siang dari kantor di Bali. Apa yang tersedia hari itu, itulah yang kupotret dan kukirim kepada Nana. Tidak selalu fotonya bagus. Kadang aku sudah lapar dan cuma ingin cepat makan. Tetapi mengirim foto itu membuat satu bagian hariku yang sangat biasa punya tempat untuknya.
Nana membalas dengan piringnya sendiri. Ia lebih sering memasak makan siangnya. Kalau sedang tidak membuat bekal, ia membeli makan. Dari foto saja kadang aku bisa membayangkan perbedaan harinya: apakah ia sempat menyiapkan sesuatu atau hari itu terlalu penuh dan ia memilih cara yang lebih mudah.
Aku suka melihat masakannya.
Bukan karena setiap makan siang harus menjadi bahan percakapan panjang. Sering kali kami hanya saling menunjukkan apa yang ada di depan kami, memberi komentar pendek, lalu kembali bekerja. Namun selama beberapa detik, kami seperti duduk di satu meja yang dibelah jarak. Aku melihat apa yang dimakannya. Ia melihat apa yang diberikan kantorku hari itu.
Mungkin orang lain akan menganggap kebiasaan itu tidak penting. Bagiku, ia menjawab pertanyaan yang dulu bisa kulihat sendiri: Nana sudah makan?
Menjelang sore kami memberi kabar lagi ketika hendak pulang kantor. Setelah tiba di kos, pesan berikutnya datang. Kadang hanya satu kalimat. Kadang disusul cerita tentang jalan pulang atau hari kerja yang panjang. Aku mulai mengenali ritme hari Nana dari kabar-kabar itu, sebagaimana ia mulai mengenali ritmeku di Bali.
Malamnya perbedaan piring kami muncul lagi.
Nana biasanya membuat makan malam sendiri. Sesekali ia membeli kalau tidak sedang memasak. Aku lebih sering membeli makan malamku. Ada sesuatu yang membuatku tersenyum setiap kali membayangkan kami sama-sama sedang memilih apa yang akan dimakan, tetapi dengan cara yang berbeda di dua kota.
Aku ingin suatu hari bisa berada di dekatnya saat ia memasak. Bukan untuk mengubah semuanya menjadi adegan romantis. Aku mungkin hanya akan bertanya apakah ada yang bisa kubantu, lalu diberi pekerjaan kecil agar tidak mengganggu. Aku ingin tahu seperti apa bunyi kehidupan biasa yang selama ini cuma sampai kepadaku sebagai cerita dan foto.
Setelah makan, kami menelepon lewat video. Ada malam yang penuh obrolan. Ada malam ketika salah satu masih mengurus sesuatu dan yang lain cuma menemani dari layar. Lama-lama suara percakapan menipis, mata mulai berat dan salah satu tertidur lebih dulu.
Panggilannya tetap menyala.
Kadang aku bangun sebentar dan layar itu masih ada. Nana berada di kosnya, aku di kosku, tetapi kami melewati jam-jam tidur dalam panggilan yang sama. Teknologi tidak bisa memindahkan suhu tubuhnya ke sisiku. Tetap saja, mengetahui ia ada di ujung sana membuat kamar terasa tidak sepenuhnya sunyi.
Pagi datang, lalu kami mulai lagi: berangkat, sampai, makan siang, pulang, sampai kos, makan malam dan kembali melihat satu sama lain sebelum tidur.
Aku tidak tahu kapan urutan itu menjadi kebiasaan.
Aku hanya tahu ketika salah satu kabar belum datang, aku mulai mencarinya.
Hari yang Tidak Muat di Layar
Beberapa hari setelah pindah, aku mulai mengetahui bahwa telepon panjang pun punya batas.
Satu hari dapat berisi begitu banyak bagian kecil. Orang baru yang namanya nyaris kulupa. Jalan yang ternyata buntu. Makanan yang kupesan karena menunjuk menu tanpa cukup yakin membaca pilihannya. Rasa lega ketika pekerjaan selesai. Rasa sepi yang muncul sesudahnya. Aku ingin menceritakan semua kepada Nana, lalu ketika panggilan tersambung, aku tidak tahu harus mulai dari mana.
"Hari kamu gimana? Apakah kamu happy hari ini?"
Pertanyaan itu mudah diajukan. Jawabannya kadang terasa terlalu besar untuk speaker kecil di ponsel.
Aku bisa mengatakan "baik" dan itu benar. Aku juga bisa mengatakan "aku kangen" dan itu benar. Dua jawaban itu tidak saling membatalkan. Aku senang ada di Bali. Aku juga ingin Nana duduk di sebelahku ketika aku sedang senang. Kangen tidak selalu muncul karena hari berjalan buruk. Kadang justru hal yang paling menyenangkan membuatku paling ingin berbagi tempat dengannya.
Ada saat ketika kami sama-sama ingin cerita. Ada pula saat Nana lelah dan aku terlalu bersemangat menceritakan jalan yang baru kutemukan. Aku mulai memperhatikan kapan suaranya masih ingin mendengar dan kapan ia hanya berusaha tetap terjaga agar aku tidak kecewa. Ia pun bisa menangkap ketika aku berkata mendengarkan padahal pikiranku masih tersangkut di pekerjaan.
Hubungan jarak jauh membuat kejujuran kecil terasa penting.
"Aku capek, kita diam dulu ya" bukan penolakan.
"Aku mau cerita, tapi sebentar lagi aja" bukan tanda hati berubah.
Kami tidak langsung sempurna melakukannya. Kadang aku tetap menunggu balasan lebih lama daripada yang ingin kuakui. Kadang aku memeriksa kapan ia terakhir online, lalu sadar informasi itu sama sekali tidak menjelaskan apa yang ia rasakan. Aku harus menahan diri untuk tidak membuat ponsel menjadi alat membaca pikiran.
Surat tanggal 15 kembali berguna pada saat-saat seperti itu. Nana sudah mengatakan ia takut kami menjadi asing. Kalau aku mulai menebak-nebak satu pesan pendek, aku mengingat bahwa perempuan yang menulis surat itu adalah perempuan yang sedang kubaca pesannya sekarang. Satu jawaban singkat tidak menghapus semua kalimat panjang yang pernah ia kirim.
Aku juga tidak ingin Nana harus mengingat balasan tanggal 16 hanya ketika keadaan kami sedang baik. Kalimat bahwa Bali tidak akan merebutku darinya harus punya bentuk dalam hari-hari biasa. Bentuknya mungkin membalas dengan perhatian meskipun aku capek. Memberi tahu jika aku sibuk, bukan menghilang lalu berharap ia mengerti. Mendengarkan ceritanya tentang Jakarta tanpa terus mengalihkan pembicaraan ke tempat baruku.
Janji yang terdengar indah dalam surat sering diuji oleh hal membosankan.
Jam kerja. Baterai ponsel. Salah baca nada pesan. Salah satu tertidur lebih dulu ketika panggilan masih menyala.
Aku mulai percaya bahwa menjaga kedekatan kami tidak membutuhkan percakapan besar setiap malam. Tetapi ia membutuhkan pilihan kecil yang berulang. Menyapa lagi setelah kemarin terlalu lelah. Menanyakan bagian cerita yang terputus. Mengirim kabar sebelum tenggelam dalam pekerjaan.
Kadang hal itu cukup membuat malam terasa lebih ringan.
Kadang aku tetap ingin memeluk Nana dan kesal karena tak ada cara melakukannya.
Keduanya boleh ada.
21 Juli: Warna yang Kembali
Ada hari ketika Nana terlalu lelah untuk menyusun cerita pendek. Pada tanggal 21, aku menulis agar ia boleh menangis kalau memang ingin, boleh menceritakan semua yang selama ini ditahan. Aku mungkin terlalu sering terdengar seperti orang yang sedang berusaha menyelamatkan keadaan. Namun pagi itu aku sungguh hanya ingin ia tahu aku mau mendengar.
Balasannya panjang. Nana berkata sejak aku hadir, hari-harinya yang pernah terasa abu-abu perlahan memiliki warna lagi. Ia bisa tertawa, merasa diperhatikan dan mulai percaya masih ada hal baik setelah tahun yang berat. Lalu, tepat ketika aku hampir menganggap diriku orang paling berguna dalam kisah ini, ia bertanya apakah aku sendiri benar-benar sudah sembuh. Atau selama ini cuma pandai menyimpan sakit di tempat yang tak terlihat.
Aku menatap pertanyaan itu lebih lama daripada pujiannya.
Aku sudah sering ingin menjadi tempat aman bagi Nana. Ternyata ia tidak sedang memintaku berdiri di luar pintu sambil menjaga semuanya sendirian. Ia ingin aku juga bisa masuk, capek dan bercerita. Ia ingin mengenal diriku yang cerewet, tengil, diam, bahkan yang mungkin belum pernah kutunjukkan kepada orang lain.
Di akhir pesannya ia menulis bahwa rasa sayangnya tumbuh sedikit demi sedikit. Bukan hanya karena aku menjaganya, melainkan karena kehadiranku membuat hidup terasa masih sanggup memberi kejutan yang baik. Aku tidak langsung punya kalimat yang sepadan. Sesaat aku hanya duduk di Bali, jauh dari tangannya dan merasa ia sedang mendekat kepadaku dengan cara yang tak bisa dilakukan pesawat mana pun.
26 Juli: Pelan-Pelan, Setiap Hari
Lewat tengah malam tanggal 26, Nana menulis lagi. Ia mengingat betapa keras tahun itu kepada kami berdua. Ada mimpi yang harus ia lepaskan. Ada bagian hidupku yang juga selesai lebih cepat daripada yang pernah kubayangkan. Kami bertemu di tengah dua kehilangan itu, tanpa rencana untuk saling menjadikan obat.
Ia tidak mengaku sudah sembuh. Ia juga tidak meminta aku berpura-pura sudah sembuh.
Yang ia tahu, ia tidak sengaja jatuh cinta kepadaku. Rasa itu datang pelan-pelan lewat cara kami memperlakukan satu sama lain, lewat percakapan dan hari-hari biasa. Ia meminta izin untuk terus jatuh cinta sedikit demi sedikit, tetapi setiap hari. Aku membaca pesan itu beberapa jam kemudian, saat dini hari belum benar-benar menyerahkan langit kepada pagi.
Ada kalimatnya yang tinggal paling lama: ia berharap kali ini kami bisa tetap tinggal. Bukan janji untuk sebuah kehidupan lain. Ia ingin tahu apakah dua orang yang pernah ditinggalkan oleh rencana masing-masing masih bisa memilih satu sama lain dalam hidup yang sedang dijalani.
Aku membalas bahwa aku mau tetap di sini, pada hari yang senang maupun yang berat. Bukan karena ia harus kembali menjadi Nana yang selalu ceria agar layak kucintai. Aku mengenalnya juga ketika ia sedang rapuh dan dari sanalah kedekatan kami tumbuh. Aku meminta kami menjaga ruang ini berdua, dengan kejujuran yang kemarin ia minta dariku.
Setelah mengirimnya, aku tetap harus menjalani hari seperti biasa. Makan, bekerja, memberi kabar. Tetapi ada sesuatu yang berubah dalam cara kulihat semua kebiasaan itu. Foto makan siang dan panggilan sebelum tidur bukan lagi pengisi waktu sampai bertemu. Mereka adalah tempat kecil untuk melatih pilihan yang baru saja kami ucapkan.
Rindu yang Memerlukan Tanggal
Sebelum berangkat, kami sudah menyebut Agustus.
Nana bahkan menulis tentang lima hari di Bali dalam suratnya pada tanggal 15. Ada sesuatu yang menghibur dari mengetahui ia juga menunggu perjalanan itu. Namun sebuah bulan masih terlalu luas untuk ditempati rindu. Agustus bisa berarti awal, tengah atau akhir. Ia bisa berubah oleh pekerjaan, harga tiket atau hal kecil yang mendadak tidak bisa dipindahkan.
Aku ingin titik yang lebih tepat.
Bukan karena tanggal akan menghilangkan jarak. Aku tahu setelah tiket dibeli, Nana tetap berada di Jakarta dan aku tetap di Bali. Tetapi menunggu sesuatu yang punya tanggal berbeda dengan menunggu kemungkinan. Yang pertama setidaknya memberi tempat untuk meletakkan harapan.
Aku mulai membuka penerbangan Jakarta ke Denpasar. Mencari jam yang masuk akal untuk pekerjaannya. Menghitung hari kerja yang bisa kami sisihkan. Menimbang perjalanan pulang yang selalu terasa terlalu cepat bahkan ketika masih berada dalam daftar pilihan.
Setiap kali menemukan susunan yang kelihatannya pas, aku mengirimkannya kepada Nana atau menyimpannya untuk kami bicarakan. Lalu ada bagian lain yang perlu diubah. Jam kedatangan. Lama tinggal. Kemungkinan berangkat setelah pekerjaan. Lima hari harus dipasang di antara dua kehidupan yang tetap berjalan.
Aku pernah merasa aneh karena begitu serius meneliti tiket. Dulu kami cukup bertanya, "lagi di mana?" Sekarang jawaban atas "mau ketemu?" melibatkan tabel kecil di kepalaku dan beberapa halaman maskapai yang kubuka berulang-ulang.
Aku tidak membenci pekerjaan itu.
Setiap pilihan penerbangan berarti ada jalan yang mungkin membawa Nana ke sini.
Satu hal membuatnya terasa lebih penting lagi: Nana belum pernah menginjak Bali. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan pertamanya kepadaku sejak aku pindah. Ini pengalaman pertamanya melihat pulau yang baru mulai kusebut tempat tinggal.
Aku suka membayangkan momen ia keluar dari bandara dan melihat udara malam Bali untuk pertama kalinya. Aku suka membayangkan komentar pertamanya, meskipun aku sama sekali tidak bisa menebak apa. Nana bisa memperhatikan sesuatu yang kulewati tanpa sadar. Ia bisa menyukai jalan yang tidak kumasukkan daftar. Ia bisa menganggap tempat yang sudah kupilih biasa saja, lalu ingin berhenti lama di tempat yang tak kurencanakan.
Aku ingin ada di sana untuk mendengar semuanya.
Ada juga rasa tanggung jawab kecil yang tidak diminta siapa pun. Kalau ini Bali pertamanya, aku ingin ia pulang membawa ingatan yang baik. Aku tahu pulau itu tidak bisa kuatur agar selalu cerah. Jalan bisa macet. Tempat bisa tutup. Kami bisa sama-sama lelah. Tetap saja aku ingin menyiapkan perjalanan sebaik mungkin, seolah dengan cukup banyak perhatian aku bisa memberi ruang lebih besar bagi hal-hal baik untuk terjadi.
Sampai akhir Juli, aku masih menghitung, membuka pilihan penerbangan, lalu menutupnya dengan pertanyaan baru. Kami ingin bertemu. Keinginan itu sudah jelas. Yang belum selesai adalah memberi jam dan tanggal pada perjalanan yang harus muat di antara pekerjaan, istirahat dan hidup masing-masing.
Setiap kali aku membuka kalender, aku mencoba membayangkan kotak mana yang kelak akan menjadi milik kami. Aneh, sesuatu yang belum tercetak di tiket pun bisa membuat hari kerja terasa sedikit lebih ringan. Mungkin karena kali ini kami sama-sama menginginkan pertemuan itu, bukan cuma salah satu menunggu di ujung jarak.
Aku membayangkan menunggu di Ngurah Rai.
Mungkin aku akan tiba terlalu awal, seperti ketika ingin menjemputnya di Palma Tower. Mungkin aku akan berdiri sambil pura-pura tenang dan memeriksa nomor penerbangan berkali-kali. Mungkin ia keluar dalam keadaan lelah, rambutnya tidak seperti saat ia berangkat dan hal pertama yang ia inginkan cuma duduk.
Aku tidak peduli.
Aku ingin melihat momen ketika matanya menemukan aku di antara orang-orang yang menunggu. Lalu, untuk pertama kalinya sejak Juli, kami tidak perlu mengubah rindu menjadi kalimat.
Aku ingin memeluknya sebelum menanyakan apa pun.
Walaupun setelah itu aku mungkin tetap akan bertanya apakah ia lapar.
Di surat tanggal 10 Juli, aku membayangkan memeluk Nana sebelum pergi makan malam. Di akhir bulan, keinginan yang sama harus menyeberangi laut dan menunggu penerbangan yang belum kami tetapkan. Aku mulai paham bahwa hal kecil yang dulu bisa dilakukan kapan saja akan terasa sangat besar ketika kesempatan berikutnya masih berupa rencana.
Kami memerlukan tanggal. Tanggal itu pun kelak tidak akan menjawab semua pertanyaan lain.
Aku masih belum tahu bagaimana kami akan menjalani bulan-bulan setelah kunjungan itu. Belum tahu apakah pertemuan berikutnya akan membuat perpisahan sesudahnya lebih mudah atau justru lebih berat. Belum tahu apakah kami akan selalu cukup sabar ketika pekerjaan dan jarak sama-sama meminta tenaga.
Aku hanya tahu kami sedang mencari cara untuk bertemu.
Pilihan itu cukup nyata untuk kupegang sekarang.
Bali yang Menunggu Nana
Sambil menunggu rencana perjalanan menjadi pasti, aku mulai melihat Bali dengan cara yang agak menyebalkan bagi orang yang bepergian bersamaku.
Aku bisa melewati suatu tempat lalu berhenti memikirkan apakah Nana akan suka. Aku menyimpan nama lokasi di ponsel, menelusuri rute, membaca jam buka, lalu membuka peta lagi meskipun baru saja menutupnya. Sedikit demi sedikit, hidupku di sini terbagi menjadi dua jenis tempat: yang sudah kulihat dan yang ingin kulihat bersamanya.
Tukad Cepung masuk daftar. Penglipuran juga. Pantai, Nunggalan, Kintamani, tempat makan dan bagian kota yang mulai kukenal dari rutinitasku sendiri. Mula-mula semua itu hanya nama. Setelah beberapa hari, aku mulai menaruh jam di sampingnya.
Aku tahu apa yang akan Nana katakan kalau melihat betapa rapinya rencanaku.
Atau mungkin aku hanya berharap ia akan menertawakanku sedikit, karena aku sendiri sadar ada sesuatu yang lucu dari seseorang yang memperlakukan itinerary seperti surat cinta.
Tapi bagiku setiap tempat memang mempunyai arti lain.
Tukad Cepung berarti berjalan di dekatnya sambil melihat sesuatu yang baru. Penglipuran berarti mendengar pendapatnya tentang tempat yang selama ini cuma kulihat lewat gambar. Pantai berarti bisa duduk tanpa harus mengisi setiap menit dengan percakapan. Nunggalan berarti satu malam ketika yang tertidur di dekatku benar-benar Nana, bukan wajahnya di layar.
Kintamani berarti perjalanan panjang yang mungkin membuat salah satu tertidur di tengah jalan. Tempat makan berarti meja yang sama, bukan dua foto makanan yang saling kami kirim dari pulau berbeda.
Aku mencoba memilih cukup banyak agar Nana melihat beberapa sisi Bali. Pada saat yang sama, aku tidak ingin lima hari kami habis di jalan. Perjalanan pertama seseorang bisa dengan mudah berubah menjadi daftar destinasi yang dicoret satu demi satu. Aku tidak ingin ia pulang hanya membawa rasa capek dan foto yang banyak.
Ada bagian dari diriku yang menyukai rencana lengkap.
Ada bagian lain yang tahu Nana mungkin cuma ingin duduk lebih lama denganku.
Aku berharap ketika dua bagian itu bertengkar, yang menang adalah Nana.
Sesekali aku membayangkan semua rencana hari pertama berantakan. Pesawat terlambat. Kami tidur terlalu sedikit. Bangun pagi terasa seperti hukuman. Kalau itu terjadi, kami bisa menunda air terjun. Mencari sarapan. Kembali tidur.
Aku mengingat April ketika Nana akhirnya bisa tidur di kamarku setelah beberapa hari yang melelahkan. Saat itu aku tidak membangunkannya hanya karena makanan sudah siap di meja. Aku ingin mempertahankan kesabaran yang sama ketika ia datang sebagai tamu yang kurindukan, bukan sebagai seseorang yang sedang jatuh.
Ia tidak harus memenuhi jadwal demi membuktikan perjalanan ini berhasil.
Aku ingin ia cukup nyaman untuk berkata, "Aku capek," tanpa khawatir aku kecewa.
Aku juga ingin cukup jujur untuk mengaku bahwa aku mungkin akan sedikit kecewa pada rencanaku sendiri, lalu segera mengingat bahwa rencana itu dibuat untuk kami, bukan kami dibuat untuk rencana.
Ada hal-hal yang bahkan tidak kutulis di itinerary karena terlalu biasa.
Aku ingin menunjukkan jalan yang kulewati menuju pekerjaan. Tempat aku makan ketika belum tahu mau memilih apa. Sudut kota yang mulai membuatku merasa pulang. Nana selama ini mengenal kehidupan baruku lewat foto dan cerita setelah hari selesai. Aku ingin ia berdiri di dalamnya, melihat sendiri ukuran jalan, udara malam dan jarak antara tempat-tempat yang sering kusebut.
Aku juga ingin melihat bagian Bali yang baru kutahu melalui Nana.
Ia mungkin akan menemukan detail yang terlewat dariku. Ia bisa membuat sebuah tempat menjadi ingatan bersama hanya dengan satu kalimat yang nanti kami ulang sebagai lelucon. Aku suka memikirkan kemungkinan itu. Sebuah pulau yang perlahan menjadi tempat tinggalku akan mendapat lapisan lain: tempat di mana Nana pernah berada di sebelahku.
Yang paling sering kubayangkan tetap pagi.
Tidak ada air terjun. Tidak ada gunung. Tidak ada jadwal.
Aku membuka mata dan Nana ada di sana.
Aku tidak perlu memeriksa apakah ada pesan. Tidak perlu memastikan baterai ponsel cukup untuk telepon yang panjang. Tidak perlu menunggu suaranya keluar dari speaker, terpotong sesaat karena jaringan, lalu kembali lagi.
Aku hanya menoleh.
Mungkin itu terdengar seperti keinginan yang terlalu kecil untuk orang yang sedang merencanakan lima hari perjalanan. Setelah beberapa minggu hidup dengan jarak, keinginan itu terasa lebih besar daripada semua tempat yang kusimpan di peta.
Aku masih akan membawa Nana ke tempat-tempat itu kalau keadaan memungkinkan.
Tetapi kalau ia bertanya apa yang sebenarnya paling kutunggu, jawabanku bukan nama destinasi.
Aku menunggu pagi ketika ia tidak perlu datang melalui layar.
30–31 Juli: Ruang yang Belum Bernama
Menjelang akhir bulan, kami sudah saling memanggil sayang, saling mencari wajah dan tahu kebiasaan makan masing-masing. Namun kami belum duduk bersama untuk memberi hubungan ini nama yang pasti. Ada hari ketika kedekatan terasa cukup jelas. Ada hari ketika bagian yang belum jelas itu kembali mengganggu.
Pada tanggal 30, sebuah percakapan tentang teman, batas dan rasa cemburu menunjukkan betapa mudah luka lama menyelinap ke hubungan yang baru. Aku takut kehilangan Nana. Ia juga tidak ingin terus berada di wilayah abu-abu tanpa tahu bagaimana kami akan menjaganya. Kami bicara tentang kepercayaan yang tidak cukup hanya diucapkan; kami perlu memberi tahu apa yang membuat kami tidak nyaman sebelum menuduh atau menghilang.
Aku tidak suka melihat ketakutanku sendiri muncul di tengah obrolan biasa. Tetapi aku lebih tidak suka membiarkannya diam-diam mengatur Nana. Ia punya teman, pekerjaan dan hidup yang sudah ada sebelum aku pindah ke Bali. Kalau kami ingin lebih dekat, kami harus belajar menyebut rasa takut tanpa menjadikannya larangan.
Keesokan paginya kami bicara tentang hal yang tampak lebih jauh lagi: cara orang tua berbicara kepada anak. Nana memberi contoh bagaimana kalimat yang lembut bisa membuat sebuah permintaan terasa berbeda. Dari sana ia bercerita bahwa di rumahnya dulu, ungkapan sayang tidak selalu datang dengan kata-kata. Karena itu ia kadang merasa asing mendengarku mengakhiri telepon dengan ucapan cinta.
Aku ingin mengatakan bahwa ia boleh punya bahasa baru. Ia sendiri sudah mulai memikirkannya. Bagaimana kelak ia ingin berbicara lebih lembut, bagaimana kebiasaan yang keras tidak harus diwariskan begitu saja. Aku mengatakan aku percaya ia bisa menjadi ibu yang baik suatu hari nanti.
Kami belum sedang menyusun rumah tangga di atas kertas. Bahkan hubungan kami belum punya nama resmi. Justru itu yang membuat percakapan tersebut terasa begitu jujur: di tengah ketidakpastian yang dekat, Nana berani memperlihatkan seperti apa rumah yang ingin ia bangun jauh di depan. Aku mendengarkan dan, untuk sesaat, membayangkan ada tempat bagiku di dalamnya.
Siangnya kami kembali membahas makanan. Nana ingin memasakkanku sesuatu, lalu mengingatkan bahwa ia baru bisa melakukannya ketika kami bertemu lagi di Jakarta. Aku sedang memikirkan kompor dan kulkas kecil untuk kos di Bali. Ia langsung ingat kulkas apartemenku dulu: ada yang tumpah dan tidak segera kulap, sampai akhirnya ia yang membersihkannya. Aku tertawa ketika ia mengingatkan agar kulkas baru tidak berakhir sama.
Ada rasa sayang yang tidak terdengar seperti puisi di sana. Seseorang mengingat cara burukmu merawat kulkas, tetap ingin memasak untukmu dan masih cukup dekat untuk mengomelinya.
Akhir Juli: Menunggu dengan Cara Baru
Juli dimulai dengan kami dapat bertemu hanya dengan mencari waktu dan kendaraan. Juli berakhir dengan pulau berbeda di bawah kaki masing-masing dan rencana pertemuan yang masih kami susun.
Perubahan itu terjadi cepat sekali.
Di awal bulan, aku masih bisa membayangkan menjemput Nana di Palma Tower dengan motor. Pada tanggal 10, aku menulis tentang perjalanan ke tempat makan, pelukan sebelum pergi dan akhir pekan yang rasanya belum cukup panjang bahkan sebelum dimulai. Pada tanggal 15, Nana menulis untuk menemaniku di pesawat. Pada tanggal 16, aku membalas dari Bali dan bercanda bahwa satu hari tinggal di sini sudah cukup membuatku menjadi Bali Boy.
Sekarang, menjelang akhir bulan, kami mulai punya kebiasaan baru.
Ada kabar sebelum berangkat kerja, saat tiba di kantor, ketika hendak pulang dan setelah sampai di kos. Ada foto makan siang dari dua kota. Malamnya ada video call yang kadang penuh cerita, kadang hanya menampilkan dua orang melakukan urusan masing-masing sebelum tertidur dengan panggilan tetap menyala sampai pagi. Aku mulai memahami bahwa dekat tidak selalu punya bentuk yang indah ketika dilihat dari luar. Terkadang ia hanya berarti sengaja menyisihkan waktu setelah hari yang panjang.
Aku ingin menjadi orang yang bisa melakukan itu dengan baik.
Tidak setiap malam berjalan mudah. Ada saat aku terlalu lelah untuk bercerita. Ada saat aku ingin mendengar suara Nana tepat ketika ia juga punya pekerjaan yang belum selesai. Ada pesan yang baru dibalas setelah beberapa waktu, padahal orang yang menunggu sedang sensitif karena rindu. Kami harus belajar bahwa kesibukan tidak selalu berarti perubahan rasa dan rasa rindu tidak memberi kami hak untuk menuntut orang lain selalu tersedia.
Pernah aku berpikir betapa mudahnya menulis surat ketika ada waktu untuk memilih setiap kata. Aku bisa menghapus kalimat yang terdengar salah, menaruh lelucon sebelum pengakuan dan mengirimnya ketika semuanya sudah terasa cukup baik. Dalam percakapan sehari-hari tidak ada tombol untuk menyunting nada suara sesudah terlanjur keluar. Kadang yang bisa dilakukan hanya berkata, "Tadi maksudku bukan begitu," lalu berharap orang di seberang masih mau mendengar penjelasannya.
Aku mulai menghargai kesediaan Nana untuk tetap tinggal dalam percakapan semacam itu. Suratnya menunjukkan ia menyukaiku ketika semuanya hangat. Hari-hari setelah pindah mulai menunjukkan apakah kami juga bisa mendekat lagi sesudah salah paham. Itu mungkin kurang indah untuk ditulis di akhir email, tetapi terasa lebih jujur sebagai bagian dari hubungan.
Aku ingin kami tetap punya tempat untuk bercanda seperti dalam surat-surat itu. Aku juga ingin ada tempat untuk berkata bahwa hari ini sulit tanpa takut merusak suasana. Kalau salah satu sedang tidak baik-baik saja, yang lain tidak harus selalu memperbaikinya. Kadang cukup tahu, lalu datang kembali besok.
Itu bukan pelajaran yang romantis.
Tetapi aku mulai curiga hubungan yang ingin bertahan akan lebih sering dibangun oleh pelajaran seperti itu daripada oleh kalimat-kalimat besar dalam surat.
Aku membaca lagi surat tanggal 15. Nana berharap Bali baik kepadaku. Aku ingin bisa menjawab dengan jujur bahwa sejauh ini Bali cukup baik. Pekerjaan baru menantang, tetapi aku menyukainya. Tempatnya belum sepenuhnya menjadi rumah, tetapi jalan pulang mulai kuhafal.
Ada satu hal yang masih kurang.
Ia tidak ada di sini.
Aku teringat ucapannya tentang Bali yang tidak bisa memelukku. Surat itu dimaksudkan untuk membuatku tersenyum di pesawat. Sekarang kalimat tersebut muncul pada waktu yang lebih sepi. Aku bisa pergi ke pantai, menemukan tempat makan baru atau pulang melewati jalan yang semakin kukenal. Tidak satu pun bisa menjawab ketika aku ingin bercerita tentang hari yang aneh dengan kepalaku bersandar sebentar pada seseorang.
Aku tidak ingin membandingkan Nana dengan pulau tempatku tinggal. Nana pun menuliskannya sebagai candaan. Tetapi candaan itu menyimpan ukuran yang cukup tepat untuk rasa kangenku. Bali bisa memberiku pekerjaan baru, ruang baru dan pemandangan yang belum pernah kulihat. Yang kuinginkan dari Nana bukan sesuatu yang bisa diberikan tempat.
Ada malam ketika aku mencoba mengingat suara kami bernyanyi di motor. Pasti fals. Mungkin lebih fals daripada yang ingin kuakui. Dalam ingatan, suara itu bercampur angin dan kendaraan lain. Aku tidak bisa mendengar tiap nadanya dengan jelas, tetapi aku ingat rasanya: tidak ada keharusan tampil bagus di hadapan orang yang duduk di belakangku.
Aku berharap jarak tidak membuat kami terlalu hati-hati untuk tetap menjadi dua orang itu. Aku ingin masih bisa mengirim hal bodoh, tertawa atas lelucon yang tidak sempurna dan mengakui ketika aku cemas tanpa mengubah percakapan menjadi perkara besar.
Aku tidak ingin kalimat itu menjadi beban yang kuletakkan di pundaknya. Nana punya hidup yang harus dijalani di Jakarta dan aku sungguh ingin ia menikmatinya. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri bahwa sebuah tempat bisa menyenangkan dan tetap membuatku merindukan seseorang.
Kadang aku membayangkan April lagi. Pada pagi itu Nana akhirnya tidur setelah tubuhnya terlalu lama menahan berat. Aku ada di sana dan tidak bisa memperbaiki semua yang terjadi padanya. Aku hanya bisa membiarkannya beristirahat, menyiapkan makanan dan memastikan ia tidak sendirian ketika bangun.
Beberapa bulan berlalu. Ia pindah, bekerja, mendaki, memilih warna dinding, membuat lelucon dalam surat perpisahan dan merencanakan kunjungan pertamanya ke Bali. Aku ingin mengingat seluruh jalannya, bukan hanya titik ketika ia sedang hancur atau titik ketika ia tampak lebih kuat.
Sekarang aku yang memulai bab baru.
Aku tidak sedang jatuh seperti Nana pada April. Tetapi ada hari ketika semua nama jalan terasa asing dan aku ingin mendengar seseorang menyebut namaku dengan cara yang kukenal. Pada hari seperti itu, aku mencari Nana di layar. Kadang ia ada. Kadang ia baru bisa membalas nanti. Keduanya bagian dari hidup yang sedang kami pelajari.
Aku mulai mengerti bahwa hadir tidak selalu berarti berhasil datang dalam satu jam.
Untuk sementara, hadir bisa berarti menjawab ketika sempat, bertanya lagi saat jawaban pertama terlalu singkat, membicarakan hal yang mengganggu sebelum berubah menjadi dugaan dan mencari tanggal ketika kata "nanti" mulai terlalu kabur.
Kami pernah sama-sama berada di Cikarang, Bogor atau Jakarta. Sekarang Nana di Jakarta dan aku di Bali, tetapi kami masih berusaha datang ke kehidupan satu sama lain.
Ada bulan di kalender yang makin dekat. Kami masih perlu menentukan harinya.
Aku bisa membayangkan Nana keluar dari Ngurah Rai. Mungkin ia tersenyum dulu, mungkin langsung mengeluh karena penerbangannya melelahkan. Mungkin aku lupa semua yang ingin kukatakan begitu melihatnya.
Aku akan menerima apa pun versi yang datang.
Aku hanya ingin ia benar-benar datang.
Dan ketika itu terjadi, untuk beberapa hari aku tidak perlu mengirim foto langit Bali agar ia tahu seperti apa langit di sini.
Kami bisa melihatnya bersama.
0 Comments