atau: catatan dari orang yang belum selesai menghitung
Tiga puluh hari lagi aku berusia tiga puluh tahun.
Aku tahu karena tadi malam aku menghitungnya. Bukan dengan aplikasi, bukan dengan kalender digital yang bisa salah karena zona waktu atau pengaturan yang tidak sengaja berubah. Aku menghitungnya dengan jari, mundur dari tanggal lahir aku, seperti orang yang tidak cukup percaya pada angka sampai tangannya sendiri yang memverifikasi. Hasilnya sama. Tiga puluh hari.
Aku letakkan ponsel, menatap langit-langit kamar, dan menunggu sesuatu terjadi di dalam dada.
Tidak ada yang terjadi.
Bukan tidak ada perasaan. Ada. Tapi ia tidak punya nama yang jelas. Tidak punya bentuk yang bisa aku tunjuk dan katakan: ini dia, ini yang aku rasakan, ini yang sedang berjalan di dalam kepala aku malam ini. Lebih ke arah semacam dengungan rendah yang sudah ada cukup lama sampai aku tidak lagi memperhatikan kapan ia mulai.
Dan itu yang mengusik aku. Bukan angkanya. Bukan tiga puluhnya. Tapi ketidakhadiran reaksi yang aku bayangkan seharusnya ada.
Orang-orang di sekitar aku, yang sudah lebih dulu melewati angka ini, selalu bercerita dengan nada tertentu ketika membicarakannya. Ada yang bilang rasanya seperti terbangun dari mimpi panjang yang tidak terlalu buruk tapi juga tidak terlalu nyaman, semacam disorientasi yang butuh waktu beberapa hari untuk hilang. Ada yang bilang mereka menangis di kamar mandi, bukan karena ada yang salah, tapi karena ada sesuatu yang terasa perlu dilepaskan dan kamar mandi adalah satu-satunya tempat yang cukup privat untuk itu. Ada yang bilang mereka merayakannya besar-besaran, undangan dikirim, gaun dibeli, meja dipesan jauh-jauh hari, karena tidak mau membiarkan angka itu menang, karena kalau tidak dirayakan ia akan terasa seperti sesuatu yang harus ditakuti.
Semua versi itu punya intensitas. Semua versi itu punya sesuatu.
Aku tidak merasakan itu. Atau lebih tepatnya: aku merasakan sesuatu, tapi ia datang dalam bentuk yang tidak dramatis. Tidak ada tangis, tidak ada keinginan untuk merayakan secara besar-besaran, tidak ada rasa takut yang bisa aku identifikasi dengan jelas. Hanya dengungan itu. Hanya pertanyaan yang duduk diam di sudut ruangan dan menunggu aku cukup tenang untuk mau berhadapan dengannya.
Maka aku melakukan apa yang biasa aku lakukan ketika tidak tahu harus berbuat apa: aku menulis.
Ada kebiasaan aneh yang dilakukan orang ketika mendekati usia bulat. Mereka membuat daftar.
Daftar pencapaian. Daftar kegagalan. Daftar hal-hal yang “seharusnya sudah terjadi sebelum tiga puluh” berdasarkan standar yang tidak jelas datang dari mana, mungkin dari orang tua, mungkin dari teman sebaya, mungkin dari konten yang terlalu banyak dikonsumsi di layar yang terlalu sering dibuka. Daftar-daftar itu beredar di internet setiap kali seseorang mendekati milestone tertentu, dan formatnya hampir selalu sama: ada yang dicentang, ada yang tidak, dan di akhir ada semacam kesimpulan tentang apakah hidupnya sudah “pada jalurnya” atau belum.
Aku mencoba itu beberapa malam yang lalu. Duduk, buka catatan kosong, dan menunggu daftar itu keluar sendiri.
Yang keluar bukan daftar.
Yang keluar adalah satu pertanyaan yang terasa lebih besar dari semua kemungkinan jawabannya, dan yang kemudian duduk di sana menatap aku dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti ia tahu bahwa aku tidak akan pergi ke mana-mana.
Apa yang sudah aku dapatkan?
Aku duduk dengan pertanyaan itu lebih lama dari yang seharusnya. Dan semakin lama aku duduk, semakin aku sadar bahwa pertanyaan itu bukan tentang pencapaian. Bukan tentang angka di CV atau nama klien yang bisa disebutkan. Bukan tentang kota-kota yang pernah aku tinggali atau proyek-proyek yang hasilnya tertulis di laporan yang tidak ada yang membacanya sampai akhir. Pertanyaan itu lebih dalam dari itu. Ia adalah cermin. Dan cermin itu menunjukkan gambar yang tidak terlalu rapi, gambar yang banyak bagiannya blur, gambar yang cahayanya tidak sempurna dan ada bayangan di tepi yang tidak bisa aku identifikasi.
Gambar yang jujur.
Tulisan ini adalah usaha aku untuk melihat gambar itu dengan jujur. Bukan untuk membuat kesimpulan yang rapi. Bukan untuk mengakhiri dengan pelajaran hidup yang bisa dikutip. Tapi karena ada sesuatu dalam proses menuliskan sesuatu yang membuatnya terasa lebih nyata, lebih bisa dipegang, lebih bisa diduduki dengan tenang daripada dibiarkan berputar di dalam kepala tanpa bentuk.
Ini bukan laporan. Ini lebih ke arah catatan dari seseorang yang sedang mencoba memahami di mana ia berdiri sebelum melangkah ke babak berikutnya, dan yang belum sepenuhnya yakin ke mana arah langkahnya, dan yang memutuskan bahwa ketidakpastian itu tidak perlu disembunyikan.
Tiga puluh, bagi sebagian orang, adalah garis yang memisahkan sesuatu dari sesuatu yang lain. Masa muda dari kedewasaan. Boleh salah dari tidak boleh lagi salah. Masih mencari dari seharusnya sudah menemukan.
Aku tidak percaya pada garis itu.
Tapi aku juga tidak bisa sepenuhnya pura-pura bahwa angka ini tidak terasa berbeda dari angka-angka sebelumnya. Ada sesuatu dalam tiga puluh yang memaksamu berdiri diam sebentar. Bukan karena ada yang berubah secara ajaib ketika kalender berganti satu digit. Tapi karena ia adalah titik yang cukup jauh dari awal untuk bisa melihat ke belakang dengan perspektif, dan cukup jauh dari ujung untuk bisa membuat keputusan yang masih bermakna tentang ke depannya.
Dari titik berdiri aku sekarang, gambarnya tidak terlalu bagus.
Ada hal-hal yang belum selesai. Ada hal-hal yang sudah selesai tapi tidak dengan cara yang aku inginkan. Ada hal-hal yang belum dimulai padahal sudah lama ada di daftar, daftar yang berbeda dari daftar pencapaian tadi, daftar yang lebih diam, yang tidak aku tunjukkan ke siapapun, yang ada di lapisan paling dalam dari apa yang aku sebut sebagai keinginan. Ada proses yang sedang berjalan dan tidak bisa dipercepat oleh apapun, termasuk oleh keinginan aku sendiri untuk segera sampai ke ujungnya.
Dan di tengah semua itu, tiga puluh hari lagi, ada pertanyaan yang lebih kecil tapi lebih tajam dari semua pertanyaan besar yang sudah aku tulis:
Apakah aku sudah benar-benar hadir di dalam hidupku sendiri? Atau aku hanya menjalaninya sambil menunggu bagian yang lebih baik untuk dimulai?
Aku tidak punya jawaban yang bersih untuk itu. Belum.
Tapi aku punya tulisan ini. Dan untuk sekarang, mungkin itu cukup sebagai titik mulai.
Fay · April 2026 · Pearcs
0 Comments